سورة الشرح Al Insyiraah (Kelapangan)

Intisari ceramah “Safari Subuh”
Nara sumber: Habib Abdurrahman Bin Ahmad Assegaf, Lc.
Sabtu, 6 Maret 2010
Di Mushollah Al-Hanifiah
(Rt.04/ Rw.04, Setu, Cipayung, Jaktim)

Surat 94: 8 ayat

سورة الشرح Al Insyiraah
(Kelapangan)
diturunkan di Makkah

Tafsir Al Qur’an – Tafsir Jalalain

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ

1.  أَلَمْ نَشْرَحْ (Bukankah Kami telah melapangkan) Istifham atau kata tanya di sini mengandung makna Taqrir atau menetapkan, yakni Kami telah melapangkan – لَكَ (untukmu) hai Muhammad –    صَدْرَكَ (dadamu) dengan kenabian dan lain-lainnya.

Tegas artinya ialah; Bukankah dadamu telah kami lapangkan? Yang tadinya sempit karena susah/dukacita/sempit karena belum banyak diketahui jalan yang akan ditempuh, sehingga dengan Allah melapangkan dada itu, timbullah kebijaksanaan atau hukum atau pertimbangan yang adil.
Bukankah dengan petunjuk Kami dadamu telah lapang menghadap segala kesulitan. (Tafsir Al Azhar)

2. وَوَضَعْنَا (Dan Kami telah menghilangkan) telah melenyapkan-   عَنكَ وِزْرَكَ (darimu dosamu).

Nabi Muhammad SAW telah di ampuni segala dosa baik yang telah lampau ataupun yang akan datang.

3. الَّذِي أَنقَضَ (Yang memberatkan) yang mematahkan –  ظَهْرَكَ (punggungmu) ayat ini maknanya sama dengan ayat lainnya yaitu, firman-Nya, “….supaya Allah memberi ampunan kepadamu terhadap dosamu yang telah lalu…” (Q.S. Al-Fath:2)

Beban berat ialah tekanan dosa yang menimpa perasaan Nabi SAW.
Al-Qurthubi, bahwa arti Wizraka di sini ialah dosa-dosa. Dan itu adalah dosa-dosa zaman jahiliyah,meskipun di zaman jahiliyah itu beliau tidak pernah menyembah berhala.
Abdul Aziz bin Yahya dan Abu ‘Ubaidah; “Dan Kami telah lepaskan daripadamu beban beratmu,’  ialah tanggung jawab nubuwwut. Sebab menjadi Nabi dan Rasul adalah satu beban berat. Itulah telah dibuat ringan oleh Allah sehingga tidak berat memikulnya lagi.” (Tafsir Al Azhar)

4. وَرَفَعْنَا لَكَ ذِكْرَكَ (Dan Kami tinggikan bagimu sebutanmu) yakni sebutan namamu sebagai contohnya ialah namamu disebutkan bersama-sama dengan nama-Ku di dalam azan, iqamah, tasyahhud, khotbah dan lain sebagainya.

Meskipun demikian beratnya beban nubuwwat yang laksana membuat tulang punggung jadi bungkuk, namum sebutanmu Kami naukkan. Namamu Kami junjung tinggi.
Mujahid menafsirkan; “Tidaklah disebut orang namaKu, namun namamu turut disebutkan bersama namaKu.”
Jika seseorang menyembah beribadat kepada Allah Yang Maha Kuasa, seraya mengakui akan adanya syurga dan neraka, dan segala yang patut diakui, padahal tidak dia akui bahwa engkau Rasulullah. Tidaklah ada manfaatnyasegala pengakuannya itu, malahan dia masih kafir.” Demikian satu tafsir Ibnu Abbas.
Dan lebih tepat lagi tafsir Imam asy-Syafi’i. Beliau berkata: Artinya ialah: “Tidak disebut namaKu, melainkan mesti diiringi dengan namamu. Kalau orang mengucapkan Asyhadu Allah Illaha illallah, barulah sah setelah diiringikan dengan Wa Asyhadu Anna Muhammadar Rasulullah.” (Tafsir Al Azhar).

5. فَإِنَّ مَعَ الْعُسْر (Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu) atau kesukaran itu – يُسْراً (ada kelapangan) yakni kemudahan.

Ini adalah Sunnatullah! Nabi Muhammad merasa berat beban itu sampai seakan-akan hendak patah tulang punggung memikulnya. Namun di samping beratnya beban atau beserta  dengan beratnya beban , namanya diangkat Tuhan ke atas, sebutannya dimuliakan! Karena demikianlah rupanya Sunatullah itu: kesulitan selalu beserta kemudahan. yang sulit saja tidak ada! Yang mudah saja pun tidak ada! dalam susah berisi senang, dalam senang berisi susah; itulah perjuangan hidup. Dan ini dapat diyakini oleh orang-orang yang telah mengalami. (Tafsir Al Azhar).

Tanda-tanda orang yang dilapangkan dadanya adalah:

  • Orang yang Istiqomah dalam melakukan kewajiban-kewajibanNya.
  • Selalu melakukan  ibadah Sunnah.
  • Apabila melakukan dosa, langsung memohon maaf kepada Allah (selalu istiqfar)

Dalam kesulitan itu sendiri ada kemudahan, pada mulanya kadang-kadang orang tidak menampaknya. Namun setelah diperhatikan dengan Iman, jelaslah kelihatan.

Lalu diulang sekali lagi untuk lebih mantap dalam fikiran.
6. إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْراً (Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kelapangan) Nabi saw. banyak sekali mengalami kesulitan dan hambatan dari orang-orang kafir, kemudian beliau mendapatkan kelapangan dan kemudahan, yaitu setelah beliau mengalami kemenangan atas mereka.

Dan itu memang akan terjadi terus, berulang-ulang, kesultan itu senantiasa disertai kemudahan; dalam susah ada mudahnya, dalam sempit ada lapangnya.
Kesukaran, kesulitan, kesempitan, marabahaya yang mengancam dan berbagai ragam pengalaman hidup yang pahit, dapat menyebabkan manusia itu orang yang dinamis. (Tafsir Al Azhar).

7. فَإِذَا فَرَغْتَ فَانصَبْ (Maka apabila kamu telah selesai) dari salat – (bersungguh-sungguhlah kamu) di dalam berdoa.

Artinya apa bila telah selesai suatu pekerjaan atau suatu rencana telah menjadi kenyataan.
Fan-shab! Artinya bersiaplah buat memulai suatu pekerjaan yang baru. Dengan kesadaran bahwa segala pekerjaan yang telah selesai atau yang akan engkau mulai lagi tidaklah terlepas daripada kesulitan, tapi dalam kesulitan itu kenudahan pun akan turut serta. Ada-ada saja nanti ilham yang akan diberikan Allah kepadamu, asal engkau senantiasa menyandarkan segala pekerjaanmu itu kepada Iman. (Tafsir Al Azhar)

Waktu adalah kebaikan, jadi manfaatkan waktu semaksimal mungkin. Gunakan waktu sehat sebelum waktu sakitmu, gunakan waktu senggangmu sebaik mungkin sebelum datang waktu sempitmu.

Tetapi jangan sesekali lupa, yaitu:
8. وَإِلَى رَبِّكَ فَارْغَبْ (Dan hanya kepada Rabbmulah hendaknya kamu berharap) atau meminta dengan merendahkan diri

Inilah satu pedoman hidup yang diberikan Tuhan kepada RasulNya dan akan dipusakakan oleh Rasul kepada umatnya, yang tegak berjuang menyambung perjalanan memikul “beban berat” itu menjalankan perintah Tuhan; selesai satu ururusan atau usaha, mulai lagi dengan yang baru. Tapi Tuhan jangan ditinggalkan! Jangan gentar mengahadapi kesukaran, karena dalam kesukaran itu pasti ada kemudahan, asal engkau pergunakan akalmu buat memecahkannya. Sebab Allah tidak pernah mengecewakan orang yang bertwakal kepadaNya.

.

-HMA-

Surat 94: 8 ayat
سورة الشرح Al Insyiraah
(Kelapangan)

diturunkan di Makkah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s