Adab Berbisik

Kutipan Ceramah Safari Subuh.
Tanggal : 20 Februari 2010
Tempat : Mushollah Nurul Iman  (Rt.03 Rw.03 Setu)
Oleh : Habib Abdurrahman Bin Ahmad Assegaf, Lc.

.
.
Agama Islam adalah agama yang sempurna, yang mengatur seluruh aspek kehidupan manusia mulai hal-hal kecil seperti adab berbisik, hingga hal-hal besar seperti kepemimpinan negara.

Allah berfirman,

“Sesungguhnya pembicaraan rahasia itu adalah dari syaitan, supaya orang-orang yang beriman itu berduka cita, sedang pembicaraan itu tiadalah memberi mudharat sedikitpun kepada mereka, kecuali dengan izin Allah dan kepada Allah-lah hendaknya orang-orang yang beriman bertawakkal,” (Al-Mujadilah: 10).

Diriwayatkan dari Ibnu Umar r.a, bahwasanya Rasulullah saw. bersabda, “Apabila mereka tiga maka janganlah dua berbisik-bisik tanpa melibatkan yang ketiga,” (HR Bukhari [6288] dan Muslim [2183]).

Diriwayatkan dari Abdullan bin Mas’ud r.a, ia berkata, Nabi saw. bersabda, “Apabila kamu sedang bertiga maka janganlah dua orang berbisik tanpa menyertakan yang ketiga hingga mereka berbaur dengan orang ramai, karena hal itu dapat membuatnya sedih,” (HR Bukhari [6290]).

Para ulama berkata, “Setan akan membisikkan kepadanya dan berkata, ‘Mereka itu membicarakanmu’.” Maka dari itu para ulama mensyaratkan agar meminta idzin terlebih dahulu jika ingin berbisik-bisik (berbicara rahasia).

Hadits lain yang termasuk dalam Kajian hal ini adalah sebuah hadits yang diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a.

Kandungan Kajiannya sbb:

Pertama

Berbicara tentang dosa dan permusuhan dengan berbisik secara mutlak hukumnya haram berdasarkan firman Allah SWT, “Apakah tidak kamu perhatikan orang-orang yang telah dilarang mengadakan pembicaraan rahasia, kemudian mereka kembali (mengerjakan) larangan itu dan mereka mengadakan pembicaraan rahasia untuk berbuat dosa, permusuhan dan durhaka kepada Rasul. Dan apabila mereka datang kepadamu, mereka mengucapkan salam kepadamu dengan memberi salam yang bukan sebagai yang ditentukan Allah untukmu. Dan mereka mengatakan kepada diri mereka sendiri: “Mengapa Allah tidak menyiksa kita disebabkan apa yang kita katakan itu?” Cukuplah bagi mereka Jahannam yang akan mereka masuki. Dan neraka itu adalah seburuk-buruk tempat kembali. Hai orang-orang beriman, apabila kamu mengadakan pembicaraan rahasia, janganlah kamu membicarakan tentang membuat dosa, permusuhan dan berbuat durhaka kepada Rasul. Dan bicarakanlah tentang membuat kebajikan dan takwa. Dan bertakwalah kepada Allah yang kepada-Nya kamu akan dikembalikan,” (Al-Mujaadilah: 8-9).

Kedua

Berbisik-bisik yang dilakukan dua orang tanpa mengikut sertakan orang ketika hukumnya haram, sebab dapat menyakiti dan membuat orang ketiga tersebut menjadi sedih. Hukum haram ini tercantum dalam al-Qur’an dengan jelas, “Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang yang mukmin dan mukminat tanpa kesalahan yang mereka perbuat, maka sesungguhnya mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata,” (Al-Ahzaab: 58).

Ketiga

Jika yang hadir lebih dari tiga orang maka dibolehkan dua orang berbisik dengan syarat tidak berbisik tentang dosa dan permusuhan. Tambahan yang menunjukkan tentang hal ini telah tercantum dalam beberapa dalil.

Abu Shalih berkata, “Aku bertanya kepada Ibnu Umar, “Bagaimana jika empat orang?” Ia menjawab, “Tidak mengapa,” (Shahih, HR Abu Dawud [4852]).

Diriwayatkan dari Abdullah bin Dinnar, ia berkata, “Aku dan Ibnu Umar pernah singgah di rumah Khalid bin Uqbah yang letaknya di pasar. Lalu datanglah seseorang ingin berbicara rahasia dengan Ibnu Umar. Ia memanggil orang lain sehingga jumlah kami menjadi empat orang kemudian ia berkata kepadaku dan kepada lelaki yang ia panggil tadi, ‘Cobalah kamu berdua agak sedikit menjauh sebab aku pernah mendengar Rasulullah saw. bersabda, ‘Janganlah dua orang berbisik tanpa mengikutkan serta satu orang’,” (Shahih, HR Ibnu Hibban [582]).

Imam Bukhari berkata dalam kitab Fathul Baari (XI/82) bab “Jika ada empat orang tidak mengapa berbisik atau berbicara rahasia.”

Al-Baghawi berkata (XIII/91), “Tidak syak lagi bahwa hal ini merupakan bukti dibolehkannya berbisik di tempat orang banyak. Allahu a’lam.”

Keempat

Berbisik dua orang tanpa mengikut sertakan orang ketiga dibolehkan pada dua keadaan: jika orang ketiga memberi izin dan jika bersama orang banyak.

Kelima

Sebagian ulama mengambil kesimpulan hukum dari hadits ini, bahwa tidak dibolehkan tiga orang atau sepuluh orang berbisik tanpa mengikut sertakan satu orang. Sebab dilarang mengasingkan satu orang dalam pembicaraan. Sekelompok orang tidak mengikut sertakan satu orang sama hukumnya dengan dua orang berbisik dengan tidak mengikutkan satu orang. Ini pendapat yang bagus.

Keenam

Tidak boleh seseroang ikut nimbrung ketika dua orang sedang berbicara rahasia.

Ketujuh

Sebagian ulama mengartikan hadits yang tercantum dalam bab ini jika berada dalam perjalanan. Pendapat ini merupakan pengambilan dan pengkhususan tanpa berdasarkan dalil. Sebab zhahir hadits tidak seperti itu dan penyebab diharamkannya tidak berubah baik ketika berada dalam perjalanan maupun ketika berada di tempat. Oleh karena itu, larangan ini mencakup ketika safar dan ketika berada di tempat. Allahu a’lam.

***

Imam Muslim menceritakan kepada kita tentang keutamaan-keutamaannya dan meriwayatkan dari Aisyah” r.a. dia berkata :

“Pernah isteri-isteri Nabi SAW berkumpul di tempat Nabi SAW. Lalu datang Fatimah r.a. sambil berjalan, sedang jalannya mirip dengan jalan Rasulullah SAW. Ketika Nabi SAW melihatnya, beliau menyambutnya seraya berkata :”Selamat datang, puteriku.”  Kemudian beliau mendudukkannya di sebelah kanan atau kirinya. Lalu dia berbisik kepadanya. Maka Fatimah menangis dengan suara keras. Ketika melihat kesedihannya, Nabi SAW berbisik kepadanya untuk kedua kalinya, maka Fatimah tersenyum. Setelah itu aku berkata kepada Fatimah :Rasulullah SAW telah berbisik kepadamu secara khusus di antara isteri-isterinya, kemudian engkau menangis!” Ketika Nabi Saw. pergi, aku bertanya kepadanya :”Apa yang dikatakan Rasulullah Saw. kepadamu ?” Fatimah menjawab :”Aku tidak akan menyiarkan rahasia Rasul Allah Saw.” Aisyah berkata :”Ketika Rasulullah Saw. wafat, aku berkata kepadanya :”Aku mohon kepadamu demi hakku yang ada padamu, ceritakanlah kepadaku apa yang dikatakan Rasulullah Saw. kepadamu itu ?” Fatimah pun menjawab :”Adapun sekarang, maka baiklah. Ketika berbisik pertama kali kepadaku, beliau mengabarkan kepadaku bahwa Jibril biasanya memeriksa bacaannya terhadap Al Qur”an sekali dalam setahun, dan sekarang dia memerika bacaannya dua kali. Maka, kulihat ajalku sudah dekat. Takutlah kepada Allah dan sabarlah. Aku adalah sebaik-baik orang yang mendahuluimu.” Fatimah berkata :”Maka aku pun menangis sebagaimana yang engkau lihat itu. Ketika melihat kesedihanku, beliau berbisik lagi kepadaku, dan berkata :”Wahai, Fatimah, tidakkah engkau senang menjadi pemimpin wanita-wanita kaum Mukmin atau ummat ini ?” Fatimah berkata : “Maka aku pun tertawa seperti yang engkau lihat.”

Demikianlah kajian adab berbisik dimana berbisik-bisik adalah merupakan hal yang sepele tetapi mempunyai pengaruh yang dalam bagi orang yang berfikiran ingin membina ikatan persaudaraan.

-HMA-

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s